Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Mengembalikan Pesantren sebagai Jantung Peradaban

Mengembalikan Pesantren sebagai Jantung Peradaban

Posted by Abd. Warits Ilham  |  at  12.48

Catatan Bersama Ahmad Baso
Minggu, 06 Oktober 2013

.



“Indonesia tidak akan pernah mampu meraih kemerdekannya tanpa adanya peran pesantren”

Ungkapan tersebut tanpaknya tidak berlebihan; bukan bermaksud menafikan peran pihak lain, bila mengingat peran pesantren yang sangat luar biasa dalam masa-masa perjuangan warga Indonesia membebaskan diri dari cengkraman penjajah. Mereka adalah sepasukan barisan terdepan dalam riak perjuangan dalam mengusir penjajah dari bumi Nusantara. Dengan semangat Jihad yang dikobarkan oleh hampir semua kiai-kiai di pesantren, rakyat Indonesia yang mayoritas beragama islam saling bahu membahu dalam pertempuran, meski harus berhadapan dengan ganasnya meriam dan bom walau hanya dengan bermodal bambu runcing.
Bahkan beberapa “jenderal” pasukan gerilyawan selalu meminta doa restu, bahkan juga mendapat “jimat” (yang selama ini dianggap tidak rasional) dari kiai. Dan ternyata doa restu dan Jimat itu menjadi suatu “sumber” kekuatan luar biasa bagi mereka ketika menghadapi musuh dengan senjata, dan strategi perang yang jauh lebih maju dari yang dimiliki kaum pejuang di masa itu.
Itulah salah satu penyebab “langgengnya” perjuangan masyarakat Nusantara dalam mengusir penjajah guna meraih kemerdekaan, meski persenjataan tidak berimbang tapi tidak ada kata menyerah dalam proses perjuangan. Karena itu, keberadaan Belanda di Indonesia selama kurang lebih 350 tahun tidak pernah senggang dari perlawanan warga Indonesia.
Dalam perannanya, pesantren tidak hanya menjadi “benteng” bagi basis perjuangan pasukan gerilyawan. Tapi keberadaan mereka juga menjadi tameng masuknya budaya dan tradisi asing yang dibawa oleh penjajah belanda. Dengan begitu, kondisi ideologis masyarakat Indonesia dapat terjaga dengan baik meski mengalami penjajahan selama lebih dari tiga abad.
Tentunya, penjajahan fisik yang disertai dengan penjajahan ideologi akan memiliki efek yang lebih kuat daripada sekedar penjajahan fisik. Ketika ideologi masyarakat nusantara ikut terjajah, pada akhirnya mereka akan memilih menjadi bagian negara belanda dari pada menjadi negara sendiri yang berdaulat. Sebab, secara perlahan akan muncul pengakuan dari masyarakat bahwa negara penjajah tersebut lebih baik dari negara kita, dan sepantasnya kita pun menjadi bagiannya. Dengan munculnya pengakuan itu, maka semangat untuk “mengusir” penjajah pun semakin meredup. Kita harus bersyukur dengan peran ganda pesantren tersebut.
Inilah peran pesantren yang tak banyak diapresiasi orang. Padahal menjaga ideologi masyarakat agar tetap berada dalam koridor keislaman berbasis identitas kenusantaraan tidaklah mudah. Apalagi ditengah-tengah situasi yang sangat kacau akibat penjajahan, dimana kelaparan akibat pemiskinan dari penjajah menjadi tantangan utamanya. Karena itu tidak heran, jika banyak kita temukan saudara-saudara kita bersedia menjadi kaki tangan belanda hanya untuk mendapatkan “sepotong” keju.
Ahmad Baso dalam pemaparannya saat memberikan kuliah umum pada PPS Instika menceritkan bahwa pesantren menjadi jantung peradaban indonesia. Mereka bukanlah konsumen peradaban sebagaimana banyak dituduhkan kalangan oreintalis, tapi sebaliknya merekalah pencipta peradaban itu sendiri. Pimpinan gerilyawan sekaliber bapak Soedirman, soekarno, dan banyak tokoh pejuang lainnya sangat mengakui kualitas kelimuan kiai. Mereka pun senantiasa mohon petunjuk pada kiai dalam setiap akan melakukan gerilya.
Bahkan dr. Soetomo yang dikenal sebagai tokoh nasionalis menegaskan bahwa sistem pendidikan yang pas untuk dijadikan percontohan pendidikan di Indonesia tiada lain kecuali sistem pendidikan pesantren. Sebab pesantren tidak hanya mengajarkan keilmuan, tapi juga menanamkan “karakter” agar anak didik tidak hanya cerdas dari segi intlektual, tapi juga cerdas secara spiritualitas dan tindakan. Sementara sistem pendidikan ala belanda hanyalah melahirkan kader-kader “robot” yang siap mengabdi pada belanda. Bahkan, Taman siswa yang digagas oleh K. Hajar Dewantara, yang sampai saat ini diakui sebagai gerakan awal kebangkitan pendidikan menurutnya juga mengadopsi sistem pendidikan pesantren yang diyakini mampu memberikan pendidikan secara utuh.
Hanya saja, pada perkembangan selanjutnya pesantren mulai diperlakukan dengan tidak adil. Adanya beberapa perguruan tinggi keislaman yang awalnya di komandani oleh kiai-kiai asal pesantren, mulai digeser hanya karena mereka tidak memiliki gelar akademik setingkat master maupun doktor. Padahal kualitas keilmuan mereka jauh lebih matang dari pada mereka yang mendapatkan ilmu dari dunia barat, yang konstruk keilmuannya memang bertujuan “menghegemoni” peradaban diluar komunitasnya.
Sejak saat itu, secara perlahan peran pesantren mulai “dilumpuhkan” baik dari segi pendidikan maupun politik kepemerintahan. Mereka hanya diberi wewenang mengurusi persoalan agama saja, padahal antara urusan agama dengan realitas kehidupan nyata tak dapat dipisahkan.
Tidak hanya itu, ketika pesantren mencoba menggagas lembaga pendidikan yang lebih baik, mereka juga mendapat tekanan dengan berbagai aturan kurikulum yang kaku. Namun demikian, pesantren tidak pernah menyerah. Mereka terus melalukan inovasi dan perbaikan-perbaikan agar keberadaannya tetap bermanfaat ditengah-tengah masyarakat.
Ternyata, pesantren sekali lagi menunjukkan kejayannya. Semakin pesantren mendapatkan tekanan, dan dipandang sebelah mata, Justru kajian tentang konstruk pendidikan pesantren terus mendapatkan perhatian serius dari berbagai kalangan. Dan dari berbagai kajian tersebut, decak kekaguman terhadap pendidikan pesantren terus bermunculan. Akhirnya, secara “malu-malu” sistem pendidikan pesantren mulai diadopsi dengan sembunyi-sembunyi oleh berbagai pihak yang dulu “menghina” pendidikan pesantren dengan istilah “kejumudan, tidak maju, katrok, amburadul” dan beberapa kalimat tak sedap lainnya.
Hal ini kiranya dapat kita lihat dengan adanya beberapa lembaga pendidian formal yang mengadakan program full day school, bimbingan khusus, pengasramaan, yang semua itu telah lama dipraktekkan oleh pesantren.
Saati ini, sepertinya pesantren mulai mendapatkan simpati dari berbagai kalangan. Sehingga ada opsi dari berbagai kalangan, bahwa jika indonesia ingin meraih kejayannya maka harus kembali pada sistem pendidikan pesantren. Sebab, konsep pendidikan sekuler telah nyata-nyata gagal melahirkan kader terbaik di negeri ini. Secara kecerdasan intlektual memang nampak hasil yang cemerlang, tapi secara ideologis dan spiritualitas mereka amat kering. Sehingga tidak heran, bila kita seringkali menemukan seorang doktor maupun profesor ternama tersandung kasus korupsi.
Adanya kepercayaan dari kemenag bagi Instika untuk membuka program pascasarjana prodi PAI dengan konsentrasi kajian pendidikan pesantren tentu merupakan angin segar bagi perkembangan iklim pendidikan pesantren. Dari kajian inilah nanti diharapkan adanya temuan baru mengenai “keunggulan” pendidikan pesantren.
Memang ini merupakan tantangan yang berat. Sebab tidak mudah memperbaiki sebuah kondisi setelah keadaan kita hampir rata dengan tanah. “kalian adalah as-shabiqunal awwalun, yang merupakan calon-calon kader terbaik dalam kajian kepesantrenan ini” itulah salah satu kalimat motivasi yang disampaikan Ahmad Baso disela-sela penyajiannya.
Adanya PPS Instika dengan konsentrasi kajian pendidikan pesantren merupakan pintu masuk untuk mengembalikan pesantren sebagai jantung perdaban di Indonesia. Dari pendidikan pesantrenlah, yang memang sesuai dengan karakter keindonesiaan, nantinya akan dilahirkan sosok pemimpin sejati yang tidak hanya cerdas secara intlektual tapi juga cerdas secara spititual dan tindakan. Sehingga semakin cerdas eorang itu, maka dia semakin baik dalam bertindak.
Karena itu, keberadaan pps ini sangatlah strategis untuk membangkitkan pendidikan pesantren sebagai basis peradaban di Indonesia. Inilah cara terbaik utuk merebut kejayaan indonesia yang selama ini dikendalikan bangsa asing.


Kota Batu Malang, 08 Oktober 2013

Kempes Membawa Berkah; Sesobek Hikmah dari K. Faizi

Kempes Membawa Berkah; Sesobek Hikmah dari K. Faizi

Posted by Abd. Warits Ilham  |  at  14.23


14. 30 Wib pada hari Senin, 06 Mei 2013 saya mendapatkan ban depan motor saya kempes. 5 menit yang lalu saya masih mengendarainya dari kantin mahasiswa Instika dalam keadaan baik-baik saja. Padahal 25 menit lagi saya harus pulang bersama teman-tema semasa aliyah dulu yang saat ini sedang bersantai di mushalla kampus.
Pikiran saya sedikit kalut saat itu, belum lagi kiriman orang rumah yang masih belum saya serahkan ke pondok. Dengan sedikit pilu, saya menceritakan keadaan ban motor saya pada kedua teman saya tersebut, sekaligus mempersilahkan mereka untuk pulang duluan, tapi diluar dugaan mereka bersikeras tetap menunggu saya.
Akhirnya dengan perasaan lega saya mencari bengkel terdekat. Pilihan saya jatuh pada bengkel kak muhammad yang berlokasi di simpang tiga buk jamil yang memang biasa menjadi langganan saya. Saya suka cara mereka bekerja, tidak kasar dan hati-hati. Terbukti ketika mereka akan membuka ban luar motor saya, mereka gunakan sesobek kertas agak tabal untuk bantalan, sehingga tidak membuat roda motor saya lecet.
Sesampainya di bengkel, ternyata masih ada enam motor yang antri dikerjakan. Memang, bengkel ini tak pernah sepi. saya hanya melihat kak muhammad seorang diri, tampaknya dia baru selesai shalat. Baju lengang panjang dan sarung kotak-kotak, plus songkok putih masih ia kenakan. Setelah menceritakan nasib motor saya, dia berujar “antos sakejje lek, nak kanak ghi’ abhejeng, tanggungan ka ashar” (tunggu sebentar dek, teman-teman masih shalat, mungkin sekalian nunggu ashar)
Hem, rupanya waktu penambalan ban ini akan membutuhkan waktu lebih lama dari perkiraan saya. Dengan segala rasa, saya hubungi teman saya via sms, tak enak melalui nelpon. Saya jelaskan keadaan saya, yang masih membutuhkan lebih banyak waktu.
Ya…, Sms terkadang memang membuat seseorang merasa enjoy ketika menyampaikan situasi tak nyaman, paling tidak itulah yang saya rasakan. Tapi ternyata mereka telpon balik, inilah keadaan yang saya kawatirkan. Harus saling bertukar suara saat kondisi yang tidak tepat, sementara saya lah penyebab utamanyanya. Saya persilahkan mereka pulang lebih dulu, karena saya tidak tahu berapa lama motor saya selesai dikerjakan.
Apakah semua ini kebetulan? Pikiran semacam itu mengejutkan saya yang sedang termenung. Saya pikir tidak, tidak ada satupun kejadian yang kebetulan dalam hidup ini. Semua sudah terencana, dan terkonsep. Saya pun ingat, tadi malam ayah saya juga mengalami nasib sama, ban belakang motornya bocor, sehingga terpaksa menggagalkan rencananya untuk menyambangi teman lamanya, padahal semua oleh-oleh sudah disiapkan. Tapi beginilah hidup, selalu ada kejadian yang tak terduga. Entah apa sebenarnya maksud Tuhan, selalu saja menjadikan hidup ini tak terjelaskan.
Setelah menunggu kurang lebih 45 menit, akhirnya tibalah motor saya dikerjakan. Ternyata ban depan saya memang pernah bocor, nah dibekas tembelan itulah yang melepuh, mungkin kekuatannya mulai berkurang setelah kurang lebih delapan bulan menempel, guna menemani perjalanan saya, menempuh jarak kurang lebih 70 km setiap hari dari gapura ke guluk-guluk, akhirnya hari ini menyerah.
Tidak menunggu waktu lama, hanya berkisar 15 menit selesai sudah motor saya dikerjakan. Setelah membayar uang jasa, dan mengucapkan terimakasih saya pun segera kembali ke kampus. Tidak ada kejadian menarik yang bisa saya ceritakan dalam perjalanan itu, semua berjalan seperti biasa. Lalu lalang kendaraan bermotor tampak senggang di sore yang berawan ini.

Hikmah yang terkuak
Inilah awal dari hikmah yang mentramkan saya, membuat saya merasakan bahwa beberapa kejadian yang tidak mengenakkan itu memang harus terjadi. Beginilah awalnya…
Setelah selesai shalat ashar, saya pun bergegas menyiapkan diri untuk pulang. Sudah delapan jam meninggalkan rumah, saatnya kembali berkumpul dengan mereka, kangen rasanya. Setelah memasang jaket, tiba-tiba kak Fais, salah satu staf ahli di Instika; saya sebut demikian karena pekerjaannya sangat banyak, mulai dari mengurus administrasi dua Fakultas, mengurus Lab ICT yang sistemnya masih tahap pembenahan, juga SIAKAD kampus yang terkadang juga butuh sentuhannya, menginstal komputer yang bermasalah, dan juga sebrek pekerjan lainnya dipondok. Saya membayangkan saja rasanya saya sudah menyerah. Tiba-tiba dia memanggil saya, “bhekna mulea ris” (kau mau pulang).
“Iya kak, saya mau pulang, kenapa? ”
“Mau nitip mp3 player sama K. Faizi, katanya.”
“Oke, tapi aku titipkan ke santrinya ya….”
“Jangan lah, serahkan sendiri, Cuma mau salaman sebentar saja kok”. Nasehatnya
“Oke”. Ujar saya sambil menerima sebuah mp3 player yang masih gres dari tangannya.
Bilang sama K. Faizi, “free download”, imbuhnya setelah mp3 itu berpindah ke tangan saya.
“e e” saya melongo saja. Tidak mengerti dengan pesan terakhirnya, mana ada mp3 player free download. Atau apakah itu tipe terbaru dengan fitur free download, semisal ada jaringan wifi atau lainnya? Apa saya sedemikian kuper tidak mengetahui perkembangan fitu mp3 player?
“sudah bilang saja begitu” ujarnya lalu beranjak meninggalkan saya, rupanya ia menangkap raut keheranan di wajah saya.
Saya tidak berbicara lagi, langsung menyambar tas lalu menyetarter motor honda supra 125 yang sudah 8 bulan menemani hampir semua aktivitas saya. Tidak butuh waktu lama, hanya sekita 3 menit saya sudah tiba di halaman rumah K. Faizi. Ada rasa segan yang menghinggapi benak saya bila harus berhadapan dengan beliau tampa kopyah, meski pada dasarnya kopyah bukan ukuran mati kesopanan. Tapi bagi saya, tidak berkopyah lalu ”nyabis” ke Kiai, itu tindakan kurang ajar. Saya mulai berfikir menitipkan saja pada santrinya, tapi kak Fais mengamanatkan saya harus menyampaikannya sendiri.
Pergulatan di benak saya belum juga berakhir, lalu saya memutuskan untuk melangkah mendekat ke pintu rumah beliau, seorang santri menatap saya, saya tanya apakah kiai Faizi ada atau tidak. Ia hanya mengangguk ringan.
“Assalamualaikum”. Saya beranikan diri ucapkan salam
“Waalaikumsalam” Terdengar jawaban pelan dari dalam, perlahan pintu terbuka dan muncullah sosok K. Faizi dengan gaya khasnya, santai dan berkopyah. Tidak seperti saya, agunnulan.
“Bheh Kamu” sapanya lembut
“Enggi kiai, ngatorragie mp3 dari kak Fais” ucap saya sambil menyodorkan mp3 ke tangan beliau, belum sempat saya salaman, karena beliau keburu menerima mp3 ditangan saya. Tidak lupa saya sampaikan pesan “free downloadnya kak Fais” beliau hanya tertawa ringan. Rupanaya asal muasal kata Free Download karena beliau punya mp3 player gratisan, tapi cepat rusak. Hem, hidup memang selalu ada-ada saja, hehehe
“dhinggal abdina nyoon pamit” ujarku sambil mengulurkan tangan hendak pamitan.
Setelah menjabat tangan beliau, saya pun bergegas menuju parkiran sepeda motor, tapi baru memegang helm tiba-tiba terdengar suara K. Faizi memanggil saya
“ris, .. ris,” saya menoleh, memastikan bahwa nama saya yang memang beliau panggil.
Ternyata betul, beliau memang memanggil saya. saya pun mendekat dengan seabrek tanya dalam kepala, ada apa kok tiba-tiba beliau memanggil saya?, apa saya akan diberikan sesuatu? (penuh harap, hehe),
“Ponapa kiai” ujar saya lirih saat didekat beliau
“Kamu tahu edi” pertanyaan yang sama sekali tidak saya pikirkan, saya memang mengenal banyak orang bernama “edi” termasuk salah satu pemilik toko onderdil mobil yang dikenal dengan nama “Edi Ban” karena memang menyediakan “Ban” mobil dengan merk dan jenis yang fariatif, saya lalu berpikir apa beliau akan meminta saya untuk memotret jenis ban untuk mobil mitsubisi “pariwisata” kepunyaan beliau, tapi…
“Edi yang jadi direktur Diva Press itu” ujarnya kemudian,
Duh, saya terlalau jauh berfikir, ternyata dugaan saya meleset.
“Edi punyak tulisan di blognya, nama blognya Edi Akhlis, tulisannya bagus, coba dibaca, kamu tidak akan pernah mengira kalau Edi bisa menulis seperti itu” ujarnya penuh semangat.
“ baik kiai, akan saya lihat nanti” jawab saya lirih
Tiba-tiba ponsel beliau berdering, rupanya ada seseorang yang menelponnya. Kesempatan itu saya gunakan untuk membuka internit dari handpone saya, segera mengetik “edi, diva press”. Saya gunakan kata kunci itu, sebab tidak mendengar jelas mengenai nama blog “Edi” yang dimaksudkannya tadi.
Setelah beliau selesai menerima telpon, saya pun menunjjukan sebuah blog “Edi Akhlis” yang saya temukan saat browser beberapa detik lalu. Beliau mengangguk, kemudian menjelaskan beberapa kelebihan dalam tulisan yang kata beliau harus saya baca itu.
Setelah penjelasan beliau berakhir, saya lalu mohon pamit karena matahari semakin tenggelam di ufuk barat.
Saya masih belum bisa mengerti apa maksud K. Faizi menunjukkan blog Edi Akhlis ini, beberapa pertanyaan bermunculan dibenak saya.
Pikiran saya pun menerawang, teringat tentang kisah-kisah ulama terdahulu yang memang memiliki cara unik dan khas dalam mendidik santri-santrinya. Salah satunya saya dengar bahwa ada seorang santri yang selama hidupnya hanya diperintahkan memanjat pohon kelapa, munurunkan buah kelapa yang sudah siap dipetik. Rupanya untuk melakukan perkerjaan ini membutuhkan keahilan tertentu, utamanya dalam menentukan jenis buah yang matang atau masih setengah matang.
Uniknya, setelah santri tersebut pulang ke rumah, dia menjadi kiai yang alim dan disegani. Selain cerita itu, ada seseorang yang selama nyantri diperintah mengurus hewan peliharaan kiai, diminta mengurus ternak. Hasilnya luar biasa, mereka pun akhirnya menjadi orang terpandang setelah pulang dari pesantren. Masih banyak cerita serupa.
Lalu saya berfikir, jangan-jangan ini adalah trik K. Faizi agar saya belajar gaya kepenulisan mas Edi Akhlis yang memang pantas untuk saya pelajari itu. Mungkin beliau paham, bahwa beberapa bulan terakhir ini saya memang banyak belajar (meniru) gaya kepenulisan beliau yang renyah dan enak dibaca, santai dan sarat dengan makna.
Terimakasih kiai, saya tidak akan pernah bosan berguru pada ajhunan dalam menulis, dan banyak hal lainnya. saran ajhunan akan abdhina terus ikuti.
Perjalanan dari Guluk-Gukuk ke Gapura, terasa lebih lama dari biasanya, saya tak sabar ingin menuliskan semua pikiran yang sejak tadi berkelebat dalam pikiran saya.

Mator Pangistoh, 06 Juni 2013
Pangong-ngangan, Madura


Nyabis             : Sowan
Agunnulan       : tidak memakai kopyah
Ajhunan           : engkau, kamu, anda
Abdhina           : saya, 

Menimba Ilmu dari As Laksana 2

Menimba Ilmu dari As Laksana 2

Posted by Abd. Warits Ilham  |  at  11.22

Foto diambil di sini
Belajar “Memesrai” Buku:
Catatan kedua; Sesaat bersama As Laksana

Acara seminar bertemakan “buku sebagai jantung peradaban” ini di pimpin oleh ra Muhammad Mushthafa selaku moderator, saya tambah antusias mengikutinya. Saya pun segera mencari tempat duduk yang mulai sesak, kata panitia, mereka menyipkan 300 kursi bagi putera dan puteri khusus untuk acara ini. Dan ternyata, mereka agak kewalahan sehingga banyak peserta terpaksa berdiri, beruntunglah saya mendapatkan tempat duduk.

Setelah moderator memberikan sedikit pengantar mengenai topik yang akan diperbincangkan, dan membaca profile pemateri tibalah kini mas As Laksana berbicara. Beliau mengawali ulasannya dengan sedikit bercerita mengenai persiapan yang dilakukannya semalam untuk materi diskusi ini. Kalau saya tidak salah mengingat, mas As Laksana menyiapkan materi dalam waktu satu jam sambil lalu menunggu waktu keberangkatan pesawat dari jakarta ke surabaya.

Mas As Laksana memperkirakan hanya memiliki waktu se jam di forum ini, maka ia hanya menyiapkan 6 poin pokok bahasan yang diberinya judul “Enam Pertanyaan Tentang Buku”. Dari pengantar awalnya, mas As Laksana senantiasa menekankan pentingnya berbicara atau menulis dengan cepat dan padat. Sebab, dengan menulis cepat, kita akan banyak waktu untuk menulis lagi, dan membaca lebih banyak buku.

Selanjutnya, mas As Laksana tidak banyak beretorika, beliau lebih memilih membaca catatan yang telah disiapkannya sejak dirumah. Pertanyaan pertama, apa yang diberikan buku? Pertanyaan sederhana tapi seringkali luput dari perhatian penikmat buku. Itulah sebabnya, banyak orang yang merasa bosa untuk membaca buku, karena mereka tidak menyadari bahwa ada banyak hal yang diberikan buku pada kita.

Dalam hal ini, mas As Laksana menceritakan beberapa hal yang akan diberikan buku bagi manusia, salah satunya adalah buku akan selalu memberikan pengalaman baru. Bahkan “pengalaman” di masa lalu yang tak mungkin terulang, akan dapat kita rasakan melalui buku. Mungkin ini pulalah salah satu alasan, mengapa buku dapat menjadi guru yang paling utama, ia dapat mengajarkan kita tanpa perlu mengalaminya terlebih dahulu.

Selanjutnya mas As Laksana bercerita pengalamannya di masa kanak-kanak dulu, ketika dipilih untuk mewakili sekolahnya dalam lomba cerdas cermat, ia dipilih karena dianggap memiliki “kekayaan” dalam berbicara. Meski saat itu mas As Laksana tidak juga mengerti maksud dari kalimat “kaya bahasa” yang dimaksudkan gurunya tersebut.

Memang, selalin memberikan pengalaman, buku membuat kita selalu menemukan kosa kata baru. Dan sebagai seorang manusia, baik ia bermiant menjadi seorang penulis atau tidak, pasti akan bersinggungan dengan kosa kata dalam kesahariannya. Sebab, kita tidak mungkin menyampaikan isi pikiran kita melalui isyarat, akan sulit orang memahaminya. Karena itu, kata-kata lah yang paling pas untuk digunakan sebagai alat komunikasi.

Rangkaian kalimat indah, dan memikat, serta mampu menyampaikan maksud gagasan kita pada orang lain dengan sempurna, hanya akan bisa dilakukan ketika kaya kosa kata. Sehingga ide yang awalnya biasa saja, akan tampak sangat menarik, bila disampaikan dengan kalimat “yang tidak biasa” digunakan orang lain. Dengan begitu, ide atau gagasan yang kita sampaikan tentu akan mudah dipahami bahkan diikuti banyak orang.

Masa kanak-kanak mas As Lakana dihabiskan banyak “bergaul” dengan buku, dari pada bermain dengan teman seusianya. Dia telah banyak membaca berbagai macam novel dengan tema beragam, bahkan beberapa buku sastra yang tidak mudah diapahami. Tapi As Laksana muda tidak peduli, dia hanya membaca dan terus membaca. Proses itulah yang kemudian bisa membuatnya menjadi penulis handal masa kini, dia telah melahap banyak kosa kata sejak usia muda. Mungkin bisa dikatakan, kosa kata yang ia lahap telah melampuai usianya.

Sementara itu, bagi seorang yang berminat belajar menulis, kekayaan kosa kata merupakan modal paling utama. Kemandegkan dan kebingungan dalam menulis karena dia kehabisan kata-kata untuk menuangkan isi pikirannya. Karena itu, menjadi wajib hukumnya melahap banyak buku sebelum dia memulia aktivitas menulisnya. Melalui buku itu pulalah, kita bukan hanya mengenal kosa kata baru, melaikan juga akan mengenal susunan kalimat bagus, padat gagasan, dan menarik untuk dibaca.

Pangong-ngangan Madura 22 April 2013
Mator Pangestoh

Menimba Ilmu dari As Laksana

Menimba Ilmu dari As Laksana

Posted by Abd. Warits Ilham  |  at  13.32

Awal “Perkenalan” dengan As Laksana
Catatan Pertama; Sesaat Bersama As Laksana

Saya memang tidak banyak mengenal tentangnya, saya pun tidak begitu riwayat hidupnya, dari mana asalanya, sekolqqah dimana, dan bagaimana memuliai karir kepenulisannya. Awalnya, saya mendengar namanya dari perbincangan beberapa teman-teman  saya di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) saat masa akhir-akhir perkuliahan di Instika,  sejak saat itu saya mulai sedikit-sedikit memburu karyanya, baik yang berupa artikel, esai atau cerpen di media massa.

Saya begitu suka dengan gaya bertuturnya, simpel tapi menarik; maaf bukan bermaksud menyimpulkan gaya kepenulisanya, tapi setidaknya itulah yang saya tangkap ketika membaca karya-karya As Laksana. Dari itu, ada rasa ingin mengenalnya lebih jauh tentang riwayat kepenulisannya, sebab saya berkeyakinan bahwa tidak ada seorang penulis yang lahir instan, semuanya pasti melewati perjuangan panjang, dan tantangan yang begitu berat.

Ketika saya memiliki akun twitter, saya mencoba mengikuti akun As Laksana, sebab di Facebook mas AS Laksana sudah memiliki temang maksimal, hingga tidak memungkinkan ada tambahan teman baru, begitu peringatan dari Facebook setiap kali saya mencoba meminta pertemanan. Karena itulah, saya lebih memilih mengikuti ide-idenya di twitter, sebab lebih memungkinkan untuk juga ikut berkomentar, meski seringkali ketika saya akan komen ada rasa “segan” yang tak saya pahami kenapa, tiba-tiba saja ada rasa takut kalimat saya salah dari segi penyusunan kalimat efektif. Saya pun seringkali menghapus kalimat itu.

Karena itu, ketika saya mengetahui panitia Festival Cinta Buku (FCB) BEM Instika tahun ini berencana menghadirkan AS Laksana saya senang sekali, rupanya akan ada jalan untuk sedikit menghapus rasa penasaran saya akan sosok yang selama ini hanya saya ikuti tulisannya di media, saya berharap dapat mengobrol banyak tentang apa saja, meski saya juga tidak tahu seberapa lama beliau akan tinggal di annuqayah.

16 April 2013, adalah jadwal kedatangan mas As Laksana ke Annuqqayah, sengaja saya berangkat dari rumah lebih pagi agar beberapa pekerjaan di LP3M yang dari kemaren terbengkalai bisa diselesaikan lebih awal, dengan begitu saya akan mendapatkan waktu yang cukup untuk mengikuti sajian materinya nanti. Tapi rupanya, setibanya di Instika saya baru tahu bahwa pelaksananya masih jam 13.30, bahkan kemungkinan bisa saja baru dimulai ketika jam 14.30 Wib, sebagaimana kebiasaan lama di Guluk-Guluk, selalu ada “dispensasi” waktu tak terbatas dalam sebuah acara. Karenanya, ketika jadwal diagendakan jam 13.00 maka dapat dipastikan satu jam setengah kemudian, acara baru akan dimulai.

Setibanya di Aula Asy-syarqawi Instika, saya langsung menfokuskan pandangan ke deretan bangku bagian depan, ingin memastikan apakah sosok As Laksana sudah duduk disana, ternyata belum ada. Mungkin masih di jalan, begitu pikir saya. Saya pun mengalihkan pandangan ke beberapa stand bazar yang menawarkan beberapa buku. Kalau tidak salah hitung, ada sedikitnya enam stand yang memenehui ruangan Aula ini. Saya mencoba bertanya, penerbit buku apa saja yang mencoba mencari peruntungan di acara tahunan BEM Instika kali ini, sayangnya teman bicara saya tidak tahu juga, dia hanya menyebutkan LkiS dan Diva Press.

Baru beberapa menit saya berkeliling, tiba pengeras suara berdengung, rupanya mas As Laksana sudah tiba dan acara siap dimulai. Saya menyesali diri, kenapa tadi tidak bersabar diri menunggunya di depan pintu sehingga saya bisa menyalaminya. Saya sudah kehilangan moment paling berharga itu, padahal tadi sudah berencana akan juga memotretnya dari dekat. Ya apa daya, mungkin takdir sedang tidak mengijinkan saya bersalaman dengannya hari itu, semoga lain waktu saya mendapat kesempatan bukan hanya bersalaman tapi juga bisa duduk satu meja menjadi dalam sebuah diskusi, semoga. Amieen ya rabbal alamin
***
Bersambung ....
Pangong-ngangan, 21 April 2013

Pengikut

Copyright © 2013 Pengintai Senja. WP Theme-junkie converted by BloggerTheme9
Blogger template. Proudly Powered by Blogger.
back to top